WHAT'S NEW?
Loading...

TAFSIR SUFI

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Qur’an yang merupakan bukti atas kebenaran Nabi Muhammad saw. dan juga dijadikan sebagai pedoman hidup manusia khususnya umat Islam mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang membedakannya dari kitab-kitab suci lainnya. Di antara keistimewaan al-Qur’an adalah bahwa Al-Qur’an berlaku di setiap tempat dan waktu salih likulli zaman wa makan), hal ini bukan tanpa sebab. Para ulama atau manusia dalam setiap tempat dan waktu dituntut untuk memahami atau menafsirkan Al-Qur’an. Usaha-usaha para ulama untuk memahami Al-Qur’an tersebut selanjutnya dikenal dengan istilah tafsir.

Dalam sejarah perkembangan tafsir, pada mulanya usaha penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan ijtihad masih sangat sedikit dan terikat oleh kaidah bahasa serta arti-arti yang dikandung oleh suatu kosa-kata. Tetapi pada perkembangan selanjutnya, seiring dengan berkembangnya pengetahuan masyarakat maka muncul berbagai kitab atau penafsiran Al-Qur’an yang beraneka ragam coraknya, yang merupakan konsekuensi logis dari perkembangan zaman dan penengetahuan.

Adanya corak-corak penafsiran yang beragam adalah sebagai bukti akan kebebasan penafsiran Al-Qur’an. Corakcorak tafsir yang ada atau dikenal selama ini adalah corak bahasa, corak filasafat dan teologi, corak penafsiran ilmiah, corak fiqih, tasawuf dan corak sastra budaya dan kemasyarakatan dan yang lainnya. Dalam makalah ini, akan mengangkat salah satu dari corak tafsir tersebut yaitu tafsir sufi atau tasawuf.


BAB II

TAFSIR SUFI

Di awal telah disebutkan bahwa dalam metodologi penafsiran Al-Qur’an, bentuk ataupun metode tafsir yang digunakan seorang tafsir akan sangat dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuannya. Sehingga hasil dari penafsirannya itu sangat kental dengan bidang yang ia kuasai. Kecondongan ataupun karekteristik yang dipengaruhi oleh latar belakang mufassir dikenal dengan istilah corak (laun). Kata “laun” yang dalam arti dasarnya adalah warna, dipakai dalam bidang tafsir sebagai nuansa khusus atau karakter khusus yang yang memberikan pengaruh tersendiri dalam tafsir.

Corak tafsir sufi yang lahir sebagai akibat dari timbulnya gerakan-gerakan sufi sebagai reaksi dari kecenderungan berbagai pihak terhadap materi telah mempunyai ciri khusus atau karakter yang membedakannya dari tafsir lainnya.

Tafsir sufi ini telah didominasi paham sufi yang dianut oleh mufassirnya karena memang tasawuf telah menjadi minat dasar bagi mufassir, sebelumnya dia melakukan usaha penafsiran atau juga bahwa penafsirannya itu hanya untuk legitimasi atas pendapatnya dalam hal ini adalah paham tasawuf.

1. Tafsir Sufi Nazari

Tafsir Sufi al-Nazari adalah tafsir sufi yang dibangun untuk mempromosikan dan memperkuat teori-teori mistik yang dianut mufassir. Dalam menafsirkannya itu mufassir membawa Al-Qur’an melenceng jauh dari tujuan utamanya yaitu untuk kemaslahatan manusia, tetapi yang ada adalah penafsiran pra konsepsi untuk menetapkan teori mereka. Al-Zahabi mengatakan bahwa tafsir sufi nadhori dalam praktiknya adalah pensyarahan Al-Qur’an yang tidak memeperhatikan segi bahasa serta apa yang dimaksudkan oleh syara’ Ulama yang dianggap kompeten dalam tafsir al-Nazari yaitu Muhyiddin Ibn al-Arabi. Beliau dianggap sebagai ulama tafsir sufi nadhory yang meyandarkan bebarapa teori-teori tasawufnya dengan Al-Qur’an. Karya tafsir Ibn al-Arabi di antaranya al-Futuhat al-Makiyat dan al-Fushush. Ibn al-Arabi adalah seorang sufi yang dikenal dengan paham wahdatul wujud-nya. Wahdat al-wujud dalam teori sufi adalah paham adanya persatuan antara manusia dengan Tuhan.

Selanjutnya al-Zahabi secara lebih panjang lebar menjelaskan karekteristik atau ciri-ciri dalam penafsiran nazary yang dapat diringkas sebagai berikut :

Pertama, dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an tafsir nadhory sangat besar dipengaruhi oleh filsafat.

Kedua, di dalam tafsir al-Nazari, hal-hal yang gaib dibawa ke dalam sesuatu yang nyata/tampak atau dengan perkataan lain mengqiyaskan yang gaib ke yang nyata.

Ketiga, terkadang tidak memperhatikan kaidah-kaidah nahwu dan hanya menafsirkan apa yang sejalan dengan ruh dan jiwa sang mufassir.

2. Tafsir Sufi Isyari

Tafsir sufi Isyari adalah pentakwilan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbeda dengan makna lahirnya sesuai dengan petunjuk khusus yang diterima para tokoh sufisme tetapi di antara kedua makna tersebut dapat dikompromikan. Yang menjadi asumsi dasar mereka dengan menggunakan tafsir isyari adalah bahwa Al-Qur’an mencakup apa yang zhahir dan batin. Makna zhahir dari Al-Qur’an adalah teks ayat sedangkan makna batinnya adalah makna isyarat yang ada dibalik makna tersebut.

Seorang ulama sufi Nasiruddin Khasr mengatakan bahwa penafsiran nash Al-Qur’an yang hanya melihat zhahirnya, hanya merupakan badan atau pakaian akidah sehingga diperlukan tafsir atau penafsiran yang dalam dengan menelusuri di balik makna lahir tersebut dan itu adalah ruhnya, sehingga bagaimana mungkin badan bisa hidup tanpa ruh. Dan begitu, bukan berarti ulama tasawuf menolak makna lahir, mereka tetap menerima makna lahir dan menelusuri makna batin untuk mengetahui hikmah-hikmah yang ada di balik makna lahir tersebut. Imam al-Gazali seorang ulama tasawuf, beliau tidak menolak secara mutlak apa yang ada dari makna lahir. Untuk bisa memahami makna batin tidak bisa dilakukan oleh akal atau ra’y, sehingga beliau sangat menolak yang namanya tafsir dengan ra’y atau akal.

Dualisme lahir-batin dalam wacana Al-Qur’an, pemahaman dan penakwilannya tidak dikembalikan kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab Allah menjadikan segala sesuatu (makhluk) memiliki dimensi dhahir dan batin (dan Al-Qur’an termasuk makhluk). Yang dhahir adalah bentuk yang bisa diindera (al-Shurah al-Hissiyah) dan yang batin adalah al-Ruh al-Ma’nawi. Semua tafsir Isyari tidak bisa begitu saja diterima tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang tidak boleh ditinggalkan oleh mufasir. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :

1. Penafsiran Isyari tidak boleh menafikan apa yang dimaksudkan makna Zhahir.

2. Harus ada nas lain yang menguatkannya.

3. Tidak bertentangan dengan syara’ dan akal.

4. Harus diawali dengan penafsiran terhadap makna lahir, dan memungkinkan adanya makna lain selain makan zahir.

Contoh penafsiran isyari yang dapat diterima karena telah memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, yaitu penafsiran al-Tastary ketika menafsirkan ayat 22 dari surat al-Baqarah : Andadan, beliau al-Tastary menafsirkan andadan yaitu nafsu amarah yang jelek. Jadi maksud andadan disini bukan hanya patung-patung, setan atau jiwa tetapi nafsu amarah yang sering dijadikan Tuhan oleh manusia adalah perihal yang dimaksud dari ayat tersebut, karena manusia selalu menyekutukan Tuhannya dengan selalu menjadi hamba bagi nafsu amarahnya.

Menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan melihat isyarat yang ada di dalamnya telah banyak dilakukan oleh para sahabat Nabi, diantaranya penafsiran isyari sahabat yaitu: Ketika para sahabat mendengar ayat pertama dari surat al-Nasr. Di antara mereka ada yang mencoba memberikan penafsiran ayat tersebut dengan mengatakan bahwa ayat tersebut memerintahkan kepada mereka untuk bersyukur kepada Allah dan meminta ampunannya. Tetapi berbeda dengan Ibn Abbas yang mengatakan bahwa ayat tersebut adalah sebagai tanda ajal Rasulullah saw.

Al-Zahabi memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara tafsir sufi nazari dengan tafsir sufi isyari sebagai berikut :

1. Tafsir sufi nazari dibangun atas dasar pengetahuan ilmu sebelumnya yang ada dalam seorang sufi yang kemudian menafsirkan Al-Qur’an yang dijadikan sebagai landasan tasawufnya. Adapun tafsir sufi isyari bukan didasarkan pada adanya pengetahuan ilmu sebelumnya, tetapi didasari oleh ketulusan hati seorang sufi yang mencapai derajat tertentu sehingga tersingkapnya isyarat-isyarat Al-Qur’an.

2. Dalam tafsir sufi nazari seorang sufi berpendapat bahwa semua ayat Al-Qur’an mempunyai makna-makna tertentu dan bukan makna lain yang di balik ayat. Adapun dalam tafsir sufi isyari asumsi dasarnya bahwa ayat-ayat al-Qur’an mempunyai makna lain yang ada di balik makna lahir. Dengan perkataan lain bahwa Al-Qur’an terdiri dari makna zahir dan batin.

Persoalan yang timbul kemudian adalah, bagaimana para sufi menafsirkan ayat-ayat tentang hukum atau fiqh. Hal ini dikarenakan bahwa di dalam cerita-cerita para sufi, mereka menolak hukum fiqh atau syariah seperti shalat, puasa jakat dan sebagainya. Yang ditekankan oleh mereka adalah hakikat bukan syariat.

Dalam menanggapi persoalan ini, perlu merujuk para ulama tasawuf sendiri. Dalan sejarah tasawuf, pada sekitar abad keempat telah terjadi pergulatan yang tajam antara ahli hakikat yang diperankan oleh para ahli tasawuf dan ahli syariah yang dmainkan oleh para fuqaha. Tetapi setelah itu al-Ghazali berusaha menyatukan kembali antara keduanya dengan menulis berbagai kitab, terutama yang terkenal diantara kitabnya adalah Ihya Ulumuddin. Al-Ghazali sebagai seorang yang dulunya filosof berpendapat bahwa dalam Islam antara syariah dan hakikat tidak bisa dipisahkan dan tidak bisa mengambil salah satu dari keduanya. Dalam menafsirkan ayat-ayat fiqh, mereka juga menggunakan pendekatan isyarat.

Ayat-ayat tentang perintah seperti shalat, zakat dan yang lainnya, tetap diterima sebagaimana para ahli fuqaha tetapi yang berbeda adalah bahwa para ahli tasawuf tidak hanya sebatas mengetahui hal itu wajib atau tidak tetapi menelusuri apa yang yang ada dibalik isyarat tersebut untuk menegtahui hikamh-hikmahnya. Dan hal ini tidak bisa dilakukan oleh para fuqaha.

Contoh-contoh penafsiran ulama tasawuf tentang ayat-ayat syariah atau fiqh di antaranya: Ayat-ayat tentang kewajiban menutupi aurat. Ibn al-Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyat sebagaimana dikutip oleh Ignaz Goldziher menafsirkannya sebagai berikut. Beliau mengatakan bahwa secara syariah menutup aurat adalah merupakan kewajiban, adapun makna batin dari syariah ini adalah wajib bagi setiap orang berakal untuk menutupi rahasia Tuhan, dan apabila membukakan rahasia Tuhan, dia bukan termasuk orang yang berakal dan berilmu.

Dari contoh-contoh di atas, terlihat jelas bahwa ulama tasawuf tidak menolak syariah. Mereka tetap berpegang pada syariah dan hakikat. Terhadap orang-orang yang lebih mementingkan syariah, al-Gazali sangat kecewa, karena mereka hanya memahami syariah (Islam) secara lahirnya saja tidak bisa menelusuri isyarat-isyarat yang ada di balik perintah syariat dan hikmah-hikmahnya.

Para ahli tasawuf yang tetap menjalankan syariat-syariat Islam mereka adalah tasawuf Islamy. Dikatakan tasawuf Islamy karena ada di antara para sufi yang dalam praktiknya hanya mementingkan hakikat tanpa meperhatikan syariat. Karena di dalam Islam syariat dan hakikat adalah seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.


BAB III

KESIMPULAN

Tasawuf dalam perkembangan sejarahnya telah memperkaya khazanah keilmuan dalam Islam, seperti halnya fiqih, kalam dan yang lainnya. Tasawuf telah memberikan warna khusus dalam praktik keagamaan para sufi. Dalam praktikpraktik ibadah mereka lebih menekankan pada nilai rasa di balik semua praktik ibadah tersebut. Warna khusus tersebut, bukan saja dalam praktik keagamaan, tetapi dalam penafsiran Al-Qur’an-pun mereka punya cara tersendiri sehingga memperkaya corak penafsiran Al-Qur’an.

Corak tafsir sufi yang mempunyai karakteristik khusus, tidak lepas dari epistimogi yang dipakai oleh kaum tasawuf sendiri yaitu epistemologi irfani yang dalam cara kerja epistimologi ini adalah adanya konsep lahir dan batin. Mereka melihat Al-Qur’an sebagai makhluk yang punya segi lahir dan batin. Yang lahir dari Al-Qur’anadalah teks Al-Qur’an sendiri sedangkan yang batin apa yang ada di balik teks. Metode tafsir yang mereka pakai adalah isyarat atau takwil melalui jalan pengalaman batin yang tentu saja penafsirannya itu tidak bisa lepas sama sekali dari dilalah ayat (madlul al-ayat) Al-Qur’an Mereka sangat anti akal karena menurutnya akal akan menghalangi mereka untuk bisa mengetahui yang batin.


DAFTAR PUSTAKA

Baidan, Nashruddin. Metodologi Penafsiran al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.

Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama; Sebuah Kajian Filsafat. Jakarta: Paramadina, 1996.

Mustaqim, Abdul. Pembuatan Buku Daras Madzahib at-Tafsir. Yogayakarta: Fakultas Ushuliuddin IAIN Sunan Kalijaga Yogayakarta, 2001.

Nasution, Harun. Tasawuf, dalam Budhi Munawar Rachman (ed), Kontektualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah. Jakarta: Paramadina, 1995.

Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Qur’an. Jakarta: Mizan, 2002.

Goldziher, Ignaz. Madzahib at-Tafsir, terj.Abdul Halim al-Najar. Baerut Libanon: Dar Iqra, 1983 M/1403 H.

Yafie, Alie. Syariah, Thariqah, Haqiqah dan Ma’rifah, dalam Budi Munawar Rachman (e.d), Kontektualisai Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta: Paramadina, 1995.

0 comments:

Post a Comment

topads

ads2

Related Websites

Be Smile Be Happy

Content right

free counters

Content left

Popular Posts

Powered by Blogger.

Like us on Facebook