WHAT'S NEW?
Loading...

BAHAGIA SEBAGAI ISTRI KEDUA PETANI TEBU

Mita, itu nama panggilannya. Lengkapnya Nyaik Fitri Pramita. Seperti gadis desa kebanyakan, ia biasa saja. Bahkan rumahnya yang terletak 2 km dari makam keramat Gunung Kawi, benar-benar terpencil, dibanding dengan kondisi lingkungan pesarean yang banyak diburu orang dari berbagai daerah itu. Setamat SMP, Mita harus pindah ke Desa Kromengan, yang berjarak 7 km dari desanya. Tujuannya semata-mata ingin melanjutkan SMK, karena tidak mau pulang pergi tiap hari.


Di Kromengan ini, Mita kos di rumah keluarga M. Asyik yang dekat dengan sekolahnya. Salah satu anak M. Asyik adalah Imam Syafi’i (36) yang tinggal di rumah itu bersama istrinya Umi Khoiriyah (46) dan anaknya Rois (13). Imam dan Umi adalah suami istri dengan keterpautan usia yang memang agak timpang, yakni 10 tahun. Ketika menikah Imam masih terbilang muda, yakni 22 tahun sedangkan Umi sudah 32 tahun.
Beberapa waktu Mita tinggal di sini, Rumini istri M. Asyik yang juga ibu Imam, jatuh sakit dan butuh perawatan dan perhatian yang lebih. Saat itulah, Mita tampil sebagai sosok yang menjawab kebutuhan itu. Mita tampil sebagai gadis yang penyayang. Ini dibuktikannya dengan merawat Rumini, sampai ibu Imam itu meninggal. Ketulusan Mita dalam merawat almarhum Rumini, diakui oleh seluruh keluarganya. “Kesabaran dan ketulusan Mita yang merawat emak, melebih anak kandung sendiri. Sampai-sampai kami merasa tak mampu membalas jasanya,” ujar adik kandung Imam, Nurhayati. Mita memang sudah merupakan bagian dari keluara M. Asyik, bahkan keluarga itu meras Mita tak bisa dipisahkan dari keluarga mereka. Untuk itu, keluarga itu sepakat melamar Mita sebagai istri kedua Imam. Gayung bersambut, istri Imam tidak keberatan dan orang tua Mita merestui.
Kini, setahun suda Mita menjadi istri Imam. Kebahagiaan itu makin dilengkapi dengan kehadiran janin dalam rahim Mita. Sejak menikah, Mita memang tetap tinggal di rumah keluarga Imam, termasuk dengan istri pertama dan anaknya. Namun, ketika usia kehamilan Mita makin bertambah, Imam perlu membelikan sebuah rumah untuk istri pertamanya.
Imam Syafi’i sendiri sebenarnya hanya seorang petani tebu sederhana. Meski demikian, ia selalu bersyukur karena bisa mensejahterakan keluarga poligaminya. “Rasa syukur saya makin berlebih karena kedua istrinya saling rukun, saling menghormati, bahkan seperti adik kakak,” kata Imam.
Sedangkan Umi, istri pertama Imam, sehari-hari berjualan daging sapi di Pasar Pakisaji, Malang. “Dengan kesibukan ini, Alhamdulillah, istri saya bisa mandiri dan ekonomi keluarga saya terbantu itu,” ujar Imam dengan bangga.

Oleh: MITA

0 comments:

Post a Comment

topads

ads2

Related Websites

Be Smile Be Happy

Content right

free counters

Content left

Popular Posts

Powered by Blogger.

Like us on Facebook