WHAT'S NEW?
Loading...

KEBERKAHAN MENCETAK AL QUR'AN

Melebarnya sayap Nusa, yang beralamat di Jalan Slamet Riyadi ini tidak lepas dari naluri bisnis Heri Gunawan.

Nusa mulai dirintis orang tua Heri pada tahun 1966. Tahun 1991 Heri diserahkan orang tuanya mengelola Nusa. Di tangan Heri percetakan Nusa rupanya berkembang lumayan pesat yang ditandai dengan berdirinya percetakan Nusa di Manang, Sukoharjo, Jawa Tengah pada tahun 2002 lalu. Di lokasi ini percetakan Nusa menempati lahan seluas dua hektar. Empat mesin percetakan jenis web baru dan mesin-mesin cetak canggih lainnya sudah nongkrong di sini. Untuk mengoperasikan mesin-mesin cetak ini, Heri mempekerjakan 170 karyawan.



Di Kota Solo, nama PT. Nusa (Nusa) dikenal sebagai penerbit dan percetakan raksasa. Menjelang Pemilu 2004 lalu umpamanya, Nusa mendapat order mencetak properti pemilu dari KPU Jawa Tengah. Di awal tahun 2004 beberapa perusahaan penerbitan pers yang beredar di Solo dan Jawa Tengah dan juga JawaTimur sudah mempercayakan Nusa untuk mencetak medianya. Sebuah penerbit legendaris dari Semarang mempercayai Nusa untuk mencetak Alqur'an terbitannya. Kini menurut Heri, setiap bulan percetakannya bisa mencetak 60 ribu eksemplar Alqur'an.

Bagi Heri, tidak ada order cetak yang lebih menyita perhatiannya daripada mencetak Alqur'an ini. Dalam proses pencetakannya, Heri perlu menyiapkan ruangan, kertas dan mesinnya secara khusus. Ruangan yang dipakai untuk mencetak Qur'an terpisah dengan ruangan lainnya. Mesin untuk mencetak juga tidak boleh dipakai untuk mencetak lainnya. Karyawan yang bekerja mencetak Alqur'an juga khusus dan mendapat fasilitas cukup istimewa. Ada 30 orang yang bertugas sebagai korektor. Mereka adalah para hafidz dari pesantren Al Islam, Solo. Sebelum dan sesudah pencetakan, Heri masih perlu mendatangkan beberapa ulama untuk melakukan koreksian.

Menurut Heri, dalam perhitungan bisnis mungkin keuntungan yang diperoleh dari mencetak Alqur'an terbilang kecil. "Tapi, dibalik itu saya mendapat keuntungan yang terlalu besar, yakni keberkahan," aku Heri. "Setiap kali saya mencetak Qur'an dengan mutu cetakan yang bagus, lanjut Heri, saat itu pula saya mendapat order cetakan berskala besar dengan nilai yang memuaskan."



Pernikahan Unik

Perjalanan hidupnya juga diwarnai banyak keunikan. Misalnya, sepanjang masa remaja hingga hari pernikahannya ia sama sekali "dingin" dengan perempuan. Namun, belakangan justru Heri berpoligami, memiliki dua istri. Malah belakangan banyak yang menjadikan Heri sebagai penasehat seputar urusan jodoh dan nikah.

Heri dilahirkan di Solo pada tahun 1964. Meski pribadinya terlihat begitu Njawa, namun sesungguhnya Heri lahir dari pasangan orang tua asal Padang yang hijrah ke Solo. Meskipun orang tuanya mampu, namun Heri tidak pernah duduk di bangku kuliah. Ia hanya menamatkan SMA Muhammadiyah 1 Surakarta tahun 1983.

Usia 22, Heri sangat ingin menikah. Sayangnya, menikah dengan siapa ia belum tahu, karena belum ada perempuan yang disukainya. "Sampai usia 22 tahun, belum ada perempuan yang saya dekati. Bahkan, oleh teman-teman saya dicurugai "dingin" terhadap perempuan," kenang Heri.

Kerabat orang tua Heri yang tinggal di Jakarta kebetulan mendengar rencana pernikah Heri. Ia kemudian dipertemukan dengan Yuli Choirati (kini 36 tahun) yang ketika itu masih mondok di Pesantren Daarun Najah, Jakarta. Mereka rupanya bisa cocok dan menikah dalam tanun 1997.



Mengagumi Poligami

Sejak remaja, Heri mengaku sudah mengagumi pria poligami. Heri, ketika itu meyakini bahwa poligami adalah sarana menjaga kesucian diri. Banyak kenyataan yang dilihat Heri, yang poligami justru berani berzina. Kenyataan ini diperkuat dengan banyak suami yang terpelihara kesucian diri dan keluarganya dengan berpoligami. Apalagi gurunya, Kiyai Mudzakir, sudah mencontohkan jalan hidup ini.

Dengan Yuli, Heri tidak pernah berdiskusi tentang poligami, menyinggung saja tidak, termasuk menceritakan teman-temannya yang sudah berpoligami. Belakangan, Heri menyaksikan banyak koleganya yang terjerumus dalam perselingkuhan. Tak mustahil, suatu ketika ia juga akan terseret dalam perbuatan tak baik itu.

Dengan sebab itu, suatu ketika Heri berkata pada Yuli, jika ada perempuan yang ingin menikah dengan pria beristri, tolong sampaikan padanya. Yuli tak menyangka, kalimat yang disampaikan Heri dengan nada canda itu adalah sebuah keseriusan. Terbukti, hari-hari sesudah itu Heri dan Yuli selalu terlibat pembicaraan serius mengenai rencana menikah yang kedua kali.

Umumnya seorang istri, awalnya Yuli tak mengizinkan suaminya menikah lagi. Namun belakangan, Yuli menyadari bahwa bila menikah lagi kesucian diri suami dan keluarganya terjaga. Untuk sampai kepada kesadaran itu, menurut Heri, peranan suami dalam memimpin istri sangat penting. Jika suami bisa memberikan keteladanan dalam ibadah, berusaha, dan hubungan baik dengan keluarga serta kehidupan lainnya, maka istri akan selalu menghormati keputusan suami.

Selanjutnya Yuli-lah yang berperan mencarikan calon istri bagi suaminya ini. Yuli menemukan Nur Farida, kini 31 tahun, gadis asal Penumping, Surakarta. Ida -demikian sapaannya- yang bekerja pada sebuah lembaga pendidikan komputer ini adalah teman Yuli dalam sebuah majelis taklim. Sebagai langkah awal, Yuli hanya mengakrabi Ida sebagai teman biasa. Dalam masa ini, Yuli tak lupa memperkenalkan Heri dan anak-anaknya. Kepada Ida, beberapa bulan kemudian Yuli sampaikan niat suaminya untuk mau berbagi pemimpinan dengan dirinya sebagai istri kedua. Ida tidak menolak tapi meminta waktu untuk berpikir.

Tiga bulan berlalu, barulah Ida menyampaikan persejutuannya. Selama tiga bulan itu, Ida tentu perlu mendengar pertimbangan orang tuanya. Beruntung orangtuanya memberikan kebebasan memilih, karena kebahagiaan rumah tangganya tergantung pada keputusannya sendiri. Menurut Ida, ia mau menerima Heri karena akhlaknya baik. Demikian pula dengan Yuli dan anak-anaknya. Untuk lebih meyakinkan kedua orangtua Ida, Heri mengajak Yuli dan anak-anaknya bersilahturahmi. Dalam beberapa kali pertemuan orang tua Ida akhirnya yakin bahwa anaknya tidak salah memilih. Pernikahan Heri yang kedua kalinya itu akhirnya berlangsung pada November 1998.
Kini, Heri baru dikarunia empat anak, semuanya dari rahim Yuli, yakni Zahratul Rifkiana (15), Yuni Hanifah (14), Miqdad Hamdani (10) dan Fadyah Nurhayati (4).

Oleh: HERY SOLO

0 comments:

Post a Comment

topads

ads2

Related Websites

Be Smile Be Happy

Content right

free counters

Content left

Popular Posts

Powered by Blogger.

Like us on Facebook